Selasa, 08 November 2011

Kemacetan ampera belum teratasi

Arus lalu lintas di atas jembatan ampera terus menajdi perhatian pemerintah kota palembang. sejumlah opsi mengatasi kemacetan ampera terus dilakukan, namun belum menemukan solusi terbaik. menjelang sea games mendatang, dishub kota palembang akan mencoba sistem buka tutup.
Sering terjadinya kemacetan di kota palembang khususnya di atas jembatang ampera, terus menjadi pekerjaan rumah pemerintah kota palembang, untuk mencari solusi yang tepat dan effektif.

Sejumlah opsi pencegahan kemacetan ampera pernah dilakukan dinas perhubungan kota palembang, dengan mengarahkan arus lalu lintas ke arah jakaring, namun solusi ini hanya berlangsung singkat, karena menimbulakan kemacetan dititik lain.

Masih belum adanya solusi tepat pengendalian arus kemacetan di ampera, dishub kota palembang berencana akan menggunakan sistem buka tutp, khususnya saat sea games digelar.
Namun untuk solusi pengendalian kemacetan saat sea games digelar masih dishub kota palembang, masih menunggu kebijakan dari walikota .

Kasih Ibu ‘Memang’ Sepanjang Jalan

Siapapun mungkin hafal betul dengan pepatah, ’kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah’. Sebenarnya tanpa kita sadari pepatah ini sering terjadi di dalam kehidupan kita. Makna pepatah ini baru benar-benar aku rasakan ketika aku hidup terpisah dari orang tua, jauh di negeri Sakura.
Tahun 1997 hidupku di perantauan dimulai. Jepang, negeri yang sangat terkenal sebagai negera Asia dengan tingkat ekonomi, teknologi, sosial budaya yang sudah modern. Di negeri ini aku memperdalam Bahasa Jepang sambil bekerja paruh waktu. Ini kulakukan untuk membiayai uang kuliah dan kehidupan sehari-hariku.
Tak terasa waktu sudah berlalu. Ketika berangkat usiaku masih 23 tahun, masih ranum bak bunga yang sedang mekar. Namun seperti tersihir dalam rutinitas kehidupan ’layaknya’ orang Jepang-yang workchoholic, tak terasa aku sudah menjadi wanita matang berusia 30 tahun. Tingkat pendidikanku pun ikut bertambah seiring pertambahan usia tadi. Pertambahanusia sebanyak 7 tahun itusemuanya kulalui di negeri Sakura.
ibu, kasih ibu, kasih sayang ibu, rasa sayang, cinta, cinta ibuKetika memutuskan untuk ’break’ sejenak dari rutinitas di Jepang, aku memutuskan kembali ke Indonesia dan bekerja di salah satu lembaga internasional milik pemerintah Jepang. Sebelum mudik ke tanah air, aku mencoba merealisasikan mimpiku yakni mengundang orang tuaku melihat negeri matahari terbit ini.
Sayangnya hanya Mamaku yang menyatakan akan berangkat ke Jepang, sedangkan Papaku memilih tidak pergi karena alasan kesehatannya yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Akhirnya berangkatlah Mamaku, sendirian!
*******
Dengan berbekal segala informasi perjalanan yang kutulis sedetil-detilnya dalam Bahasa Indonesia, Mama yang ’kedengarannya’ sangat tegar dan teguh, menyatakan siap berangkat.
Kutunggu Mama di Bandara Internasional Osaka-Jepang. Kubayangkan pertemuan yang indah dengannya. Wanita yang telah melahirkanku, membesarkanku, menerima keluh kesahku sejak bayi hingga remaja dengan ikhlas. Wanita yang tak lupa mengirimiku puluhan pucuk surat, menjadi tempat rinduku tertumpah sekian tahun. Dua ribu hari telah terlewati tanpa bisa menemui wajahnya setiap hari.
Menit demi menit kutunggu dengan gelisah. Jadwal kedatangan pesawatnya sudah lewat dari setengah jam, tapi sosok Mama tak muncul juga. Kegelisahanku memuncak ketika seeorang penumpang yang baru keluar dari pintu imigrasi menyapaku.
”Anaknya Ibu Dahniar?” Aku mengangguk.
”Sabar ya, Ibunya sebentar lagi keluar. Tapi dia sakit,” kata orang itu lagi.
Deg! Hatiku jadi tak menentu. Kakiku terasa tidak berpijak di bumi. Lunglai diriku ketika melihat Mama keluar dari pintu tempat para penunggu dengan menggunakan kereta dorong. Didorong oleh petugas bandara. Kudapati cerita dari seorang wanita-yang ternyata seorang dokter, dan teman Mama sebangku di pesawat, bahwa kesehatan Mama ’drop’ ketika pesawat mulai terbang di atas Pulau Kalimantan. Beberapa kali pesawat terkena ’turbulance’, dari sejak itulah Mama muntah dan tak bisa makan. Ternyata gula darah Mama drop, sehingga kepalanya pusing dan denyut nadinya cukup lemah. Untungnya ada dokter wanita itu yang merawat Mama sepanjang jalan.
*******
Kali kedua keberangkatan Mama ke Jepang yakni tahun 2008, adalah untuk membantuku menghadapi proses persalinan anak kedua. Setelah kepulanganku ke tanah air dulu, Allah ternyata menakdirkan diriku kembali ke Jepang. Aku berjodoh dengan pria Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S-3 di kota salju, Sapporo.
Dari pernikahan kami ini telah lahir anak pertama. Tak sampai dua tahun memiliki putri sulung, aku kembali berbadan dua. Sejak menikah, aku berprofesi sebagai ’full-time house wife’. Aku mengemban amanah suami dalam mengurus rumah tangga dan anak sendirian, tanpa pembantu. Karena memekerjakan pembantu di Jepang adalah hal yang tidak mungkin dari segi ekonomi kami. Ketika rencana kelahiran anak kedua kami tinggal tiga bulan lagi, kami meminta bantuan Mama agar datang lagi ke Jepang. Ketika aku dan suami menghadapi proses persalinan, maka si sulung bisa diasuh oleh Neneknya.
Mama yang dulu pernah datang ke Jepang dengan segala traumanya, justru sangat optimis! Kali ini rute yang akan dilewati Mama jauh berbeda dengan rute sebelumnya. Kalau dulu Mama berangkat dari Jakarta langsung menuju Osaka, hanya transit di Bali. Kali ini Mama akan melewati rute Jakarta-Seoul-Sapporo. Mama harus transit sekian jam di Bandara International Incheon-Seoul. Tapi Mama menyakinkan kami bahwa bisa ’terbang sendiri’, berbekal pengalamannya terdahulu.
Ketika kali kedua aku, suami dan putri sulung kami menunggu di Bandara Chitose-Sapporo, hatiku seperti beberapa tahun lalu. Rasa takut sangat menguasai hati dan pikiranku. Bagaimana ya kali ini? Mama sukses tidak ya? Kalau terjadi apa-apa dengannya, apakah akan ada orang yang membantunya?
Mama sering bercerita kepada kami, untuk keberangkatannya yang kedua kali ini, dia bahkan kursus bahasa Inggris private! Mamaku dengan usianya yang sudah 56 tahun, tak pernah menyentuh bangku kuliah, tak punya ilmu dasar Bahasa Inggris, tetapi begitu bersemangat ’mengeluarkan uangnya sendiri’. Diam-diam mengambil les privat. Aku dan suami sampai takjub dengan semangatnya.
Lima belas menit berlalu dari jam kedatangan pesawat. Aku benar-benar tak tenang. Sangking khawatirnya aku memilih pergi ke kamar mandi, menenangkan jiwaku yang luar biasa gelisah. Aku berharap jika aku kembali ke tempat kami menunggu, maka Mama sudah ada. Tapi sekembalinya ke pintu keluar, tetap saja belum ada sosok Mama di situ. Padahal suamiku tak beranjak di tempat itu, biar ketika Mama keluar dia bisa langsung melihat kehadiran kami.
Badanku sudah tak bisa diatur lagi. Mondar sana, mondar sini. Suamiku mengerti kegelisahanku, karena aku pernah bercerita tenang kondisi Mama dulu. Suamiku hanya bisa menenangkan diriku.
”Keluarga Ibu Dahniar?” Seseorang menegur kami dalam Bahasa Jepang. Seorang wanita! Usianya sudah cukup tua, tapi sangat ‘fashionable’-khas orang Jepang. Suamiku mengangguk, tapi aku semakin tak karuan.
“Ada sesuatu dengan Ibu saya?”tanyaku tak sabar. Si sulung juga tak sabar ingin bertemu Neneknya, sejak tadi ditarik-tariknya ujung bajuku. Membuatku semakin gelisah.
”Iya. Dia tadi sebangku dengan saya. Sekarang sedang mengisi questionarre, keliatannya ada yang sulit dan tidak dimengertinya. Sehingga dibantu oleh petugas bandara.
”Kang, gimana nih? Duuuh, Mama kenapa ya?” Aku menempelkan badanku ke Suami, meminta ketenangan. Dia memegang jemari kananku erat-erat dan berbisik,”Sabar, semoga Mama tidak apa-apa.”
Setiap kali pintu otomatis itu terbuka dan tertutup, tubuhku selalu sudah setengahnya melongok ke dalam. Tapi yang ada hanya meja-meja petugas cek barang yang sulit tembus pandang.
Ketika kepasrahanku sudah diambang batas, tiba-tiba Mama keluar dengan wajah kuyu tapi dengan senyum yang melegakan hati kami.
”Eiiii…cucuku Alma. Udah dari tadi nunggu ya.” Mama langsung ’rame’ seperti biasa. Kusalami tangannya dengan perasaan masih dengan kegelisahan yang tersisa. Sambil berjalan melewati rute ke kereta bawah tanah, Mama terus bercerita mengapa dirinya sampai jadi ’penumpang terakhir lagi’ yang keluar dari imigrasi.
Ternyata, ini ada kaitannya dengan pengisian questionarre yang biasa dibagikan di dalam pesawat, sebelum mendarat. Dari sekian banyak pertanyaan, ada satu yang membingungkan Mama. Yakni, ”What is your occupation?”
“Terus, Mama bingungnya di mana?” tanya kami.
”Iya, Mama kan nggak tahu kalau occupation itu artinya pekerjaan. Yang mama tahu kan pekerjaan itu ’work’ atau ’job’. Makanya Mama bingung ampun-ampunan.”
”Oo gitu ya, Ma”.
Aku sungguh kagum dengan daya ingat Mama tentang kata ‘work’ dan ‘job’. Padahal beliau hanya
kursus kurang dari tiga bulan, itu pun ’belang betong’ kata Mama. Kasihan juga Mama, sampai harus memeras pikirannya untuk pertanyaan itu.
”Satu lagi ada pertanyaan tentang ’mariyuana’. Mama nggak ngerti apa itu? Mama taunya ekstasi. Ternyata jenis obat keras ya…hahaha.” Mama tertawa lepas.
Mungkin Mama segelisah aku. Terbang kedua kalinya ke Jepang pastilah bukan ’urusan gampang’ untuk seorang Nenek. Jangankan untuk Mamaku, untuk kaum muda saja pasti setiap perjalanan itu akan menemukan hal-hal baru. Seperti aku yang menemukan kebenaran bahwa kasih ibu itu memang sepanjang jalan.
********
Sebulan setelah kelahiran buah hati kami yang kedua, Mama mengirimi kami sebuah buku notes. Di dalamnya ada tersurat tulisan tangan Mama tentang ’long journey’-nya yang seru ketika pulang sendiri dari Sapporo ke Indonesia.
Tersurat bagaimana repotnya Mama dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Mulai dari Bandara Chitose-Sapporo, lalu transit 7 jam di Bandara Incheon-Seoul. Kemudian keesokan harinya berangkat lagi ke Indonesia dengan jalur Denpasar Bali dan akhirnya kembali menginjakkan kakinya di Bandara Soekarno Hatta-Jakarta.
Apalah kekuatan tubuh seorang nenek yang bepergian seorang diri. Dengan beban oleh-oleh di tasnya yang over-weight. Tetapi semua itu dia bawa karena cinta kepada keluarga yang ditinggalkannya di Bandung.
Mama bercerita dalam suratnya, “Mama tak sanggup menahan air mata yang jatuh di dalam pesawat. Saat itu Mama takuuut sekali. Mama tak punya siapa-siapa dalam perjalanan. Satu-satunya penolong Mama adalah Allah swt. Selain itu Mama kangen lihat wajah cucu Mama, Alma dan si baby Tiara. Ingin rasanya Mama kembali aja ke lobby kedatangan, bergabung lagi dengan kalian di Sapporo. Tapi kalau ingat Papa kalian yang sakit-sakitan, Mama tak punya harapan.Harus tetap pulang!”
Ah, hati kami begitu trenyuh membaca suratnya.
Ya Allah, semoga ketika waktunya anak-anak kami membutuhkan kami, maka kami pun bisa seperti Mama. Kuat iman, kuat raga, dan pasrah kepadaMu.

Pakaian Adat Palembang – SONGKET

Sejarah palembang mencatat terdapat beberapa masa kejayaan , mulai dari kejayaan kerajaan sriwijaya
sampai dengan kesultanan Palembang Darussalam.
Hal ini berpengaruh kepada pakaian adat, songket memiliki unsur gemerlap dan kilauan emas
yang memancar dari kain tenun ini. Rangkaian benang tersusun dan teranyam lewat pola simetris .
KOMPETISI-WEBSITE-KOMPAS-MUDA-KFC-SONGKETSONGKET KETIKA DIKENAKAN
Songket tradisional dibuat dengan keterampilan masyarakat yang memahami cara untuk membuat kain bermutu.serta diserasikan dengan design. Dan Kemampuan ini diwariskan secara turun menurun.
Sewet Songket atau kain Songket adalah kain yang biasanya dipakai atau dikenakan sebagai pembalut bagian bawah pakaian wanita. Biasanya sewet ini berteman dengan kemban atau selendang.
Kain tenun songket Palembang ini, sangat menarik, ditelusuri sejarahnya, maknanya, dan teknik pembuatannya. Kalau kita menilik warnanya yang khas, dan motif hiasnya yang indah, pastilah kita berkesimpulan bahwa songket ini dibuat dengan keterampilan, ketelatenan, kesabaran,dan daya kreasi yang tinggi.
Berikut Tampilan Dari Pakaian adat Palembang – SONGKET

KOMPETISI-WEBSITE-KOMAS-MUDA-SONGKET2
BERBAGAI MACAM MODEL SONGKET

Makanan Khas Palembang

Makanan khas palembang, terdiri dari beraneka ragam jenis, yang paling digemari oleh banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia adalah pempek palembang dan kerupuk kemplang. karena rasanya memang enak. Makanan khas palembang yaitu: pempek palembang dan kerupuk kemplang, Anda akan merasakan enaknya dan akan selalu kembali untuk belanja pempek palembang.

Makanan Khas Palembang - Pempek Dempo 123 menyediakan:

Aneka Jenis Pempek :
Pempek Keriting, Pempek Pastel, Pempek Lenjer, Pempek Telur Besar dan Kecil, Pempek Adakan dan Otak-otak.

kerupuk kemplang, makanan khas palembang, pempek palembang
Aneka Kerupuk Kemplang
Kemplang Goreng, Kerupuk Goreng, Kemplang Panggang, Kemplang Mentah, Kerupuk Mentah
,
Tekwan Mentah, Lempok Durian, Cuka Kering, Dan lain-lain.
kerupuk kemplang, makanan khas palembang, pempek palembangKepuasan Pelanggan adalah tujuan utama kami.
Pesanan akan anda terima dalam keadaan baik.

persiapan menjelang sea games di palembang

Pasir Venue Voli Pantai SEA Games Belum Datang

Posted by admin in Uncategorized dated October 3rd, 2011
Laporan Wartawan Sriwijaya Post, Syahrul Hidayat TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG – Pasir laut yang untuk venue voli pantai di Jakabaring Sport City Palembang, Sumatera Selatan, hingga Senin (3/10/2011), belum juga datang. Menurut pengawas, pasir laut yang ditunggu itu didatangkan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Diperkirakan kapal pengangkut pasir baru akan bersandar di Dermaga Markas Yon Zikon 12/ Plaju, besok Selasa (4/10/2011). …

Rabu, 02 November 2011

KEMACETAN MENJELANG SEA GAMES 2011

Gorong-gorong Harus Selesai Sebelum SEA Games
Sabrina Asril | Laksono Hari W | Jumat, 28 Oktober 2011 | 14:35 WIB
Dibaca: 590
|
Share:
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Sejumlah kendaraan terjebak macet dikarenakan adanya proyek saluran air di Jalan Sudirman, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (21/10/2011). Proyek saluran air ini untuk mengatasi permasalahan banjir yang kerap terjadi di ruas jalan ini.
JAKARTA, KOMPAS.com - Polda Metro Jaya berharap pelaksanaan proyek perbaikan saluran air di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman bisa diselesaikan sebelum SEA Games XXVI dilaksanakan pada 11-22 November 2011. Jika tidak, dampak kemacetan dari proyek tersebut akan mengganggu pelaksanaan SEA Games.
"Kami memang tidak memiliki pressure untuk mempercepat proyek itu. Tapi kami berharap proyek itu selesai sebelum SEA Games," kata Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Tomex Korniawan, Jumat (28/10/2011) di Mapolda Metro Jaya.
Tomex mengatakan, pihaknya hanya mendapat surat pemberitahuan bahwa akan ada pengerjaan proyek perbaikan saluran air. Namun, setelah itu tidak ada tindak lanjut atau rapat koordinasi menyikapi dampak proyek terhadap lalu lintas. Akibatnya, kemacetan parah terjadi mulai dari Dukuh Atas sampai bundaran Senayan maupun arah sebaliknya beberapa hari belakangan.
"Seharusnya saat mengerjakan itu ada Amdal lalu lintasnya. Bagaimana dampaknya dan apa solusinya? Kami sudah memberikan somasi peringatan ke mereka dua kali tapi mereka tetap tidak mau datang untuk bicarakan itu," ucap Tomex.
Ia meminta pelaksana proyek untuk memperhatikan rambu-rambu dan peletakkan bahan-bahan bangunan agar tidak mengacaukan arus lalu lintas. Tomex mengatakan, sampai saat ini pelaksana proyek belum menindaklanjuti permintaan Polda Metro Jaya itu
Di surat somasi itu, Polda Metro meminta pelaksana proyek untuk memenuhi beberapa hal. Polisi meminta ada penambahan perangkat pengamanan, seperti cone, lampu kedip, dan lampu selang, yang dipasang di pagar pembatas galian dengan jalanan. Polisi juga meminta pekerja proyek dilengkapi dengan seragam yang memadai, seperti jaket khusus proyek yang memantulkan cahaya lampu kendaraan.
Polisi juga meminta agar pos proyek, beton gorong-gorong, dan material lainnya dipindah dari trotoar karena melanggar UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. "Menaruh material di trotoar dan di depan halte itu tidak benar," kata Kasubdit Kamsel Ditlantas Polda Metro Jaya Yakub Dedi Karyawan.
Yakub juga meminta agar pengerjaan proyek dilakukan tepat waktu. Pengerjaan dengan menggunakan alat berat wajib dilakukan setelah pukul 22.00. Hal ini perlu dilakukan agar arus lalu lintas tidak terganggu pada saat aktivitas perkantoran berlangsung.

Kemacetan di Kota Palembang

Kemacetan di Kota Palembang terbilang cukup mengkhawatirkan. Satuan Lalu Lintas Polresta Palembang mencatat, terdapat 43 titik kemacetan yang tersebar di sejumlah kawasan di Palembang. Kepala Polresta Palembang Kombes Pol Agus Sulistiyono saat di ruang kerjanya kemarin mengatakan bahwa 43 titik kemacetan itu semuanya harus diatasi dengan mencari solusinya. ”Palembang tergolong kota metropolis dengan tingkat kemacetan yang sudah tinggi, (karena itu) semua kemacetan harus diatasi,” ujarnya kemarin. Adapun 43 titik kemacetan itu di antaranya yang paling parah di Jalan Kol H Burlian, Jalan Veteran Simpang Rajawali, Simpang Charitas, Bundaran Air Mancur, Jalan R Sumato Simpang Patal,dan jalan A Yani. ”Masih banyak titik kemacetan lainnya, sebelum SEA Games semuanya harus sudah normal,”tegasnya.

Menurut orang nomor satu di Polresta Palembang ini, kemacetan di Palembang merupakan hal yang urgen dan harus diatasi segera. ”Untuk mengatasi 43 titik kemacetan itu memang bukan hal yang mudah, tetapi jika kita bekerja bersama-sama dengan instansi terkait,yakni Dinas Perhubungan (Dishub), mudah-mudahan bisa terselesaikan,”imbuhnya. Selama dirinya menjabat sebagai Kapolresta Palembang, penanganan kemacetan dan kriminalitas menjadi fokus. ”Selain kemacetan lalu lintas di Palembang, tingkat kriminalitas juga masih cukup tinggi.

Makanya, saat ini saya masih mendata di mana lokasi dan waktu rawan aksi kriminalitas itu terjadi,” sebutnya. Dia mengungkapkan, pendataan tempat dan waktu rawan aksi kriminal dilakukan guna mengambil tindakan antisipasi. ”Setelah kita ketahui lokasi yang rawan dan waktunya, baru kita tempatkan Polisi yang patroli sesuai desk masing-masing,” ungkapnya. Yang paling penting, sambung Agus,adalah terjalinnya kerja sama yang baik dari seluruh anggota, baik dari Shabara, Reskrim,Intelkam,Lantas, maupun Binmas.”Jika sudah terjadi sinergi,keamanan di Palembang akan tercipta sesuai cita-cita bersama,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas perhubungan (Kadishub) Kota Palembang Masrifin mengatakan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak Kepolisian dalam rangka mencari solusi mengatasi kemacetan yang terjadi. ”Jalan keluar untuk mengatasi kemacetan kita konsultasi juga dengan dewan lalu lintas,” katanya. Menurut dia, kemacetan itu terjadi karena ruas jalan di Palembang ini sudah tak seimbang lagi dengan pertumbuhan kendaraan di Palembang. ”Salah satu solusinya adalah melakukan pelebaran jalan, menertibkan parkir di pinggir jalan dan mengurangi operasi bus kota,” pungkasnya. Demikian catatan online Asurano tentang Kemacetan di Kota Palembang.